Ibu, Hari Ini Aku Berubah!
Bel sekolah berbunyi.
Erwan bergegas berkemas dan berlari menemui ibunya. Ibunya sebagai guru kelas
tiga SDN Nusa Indah, sekolah Erwan, belum selesai mengadakan rapat dengan
kepala sekolah yang dijadwalkan akan selesai jam dua, atau satu jam setelah bel
sekolah tersebut berbunyi. Erwan yang mempunyai kebiasaan makan, terlihat
gelisah merasakan perutnya yang keroncongan. Sesaat Erwan menengok ke ruang
rapat. Ibu Fitri, wali kelas erwan juga teman guru ibu Erwan berkata, “
Sebentar ya, Nak,” terdengar dari ruang rapat. Semua bapak dan ibu guru
di ruang itu tertawa melihat tingkah Erwan.
Erwan yang telah
menduduki kelas enam SD ini seharusnya lebih dewasa dan telah memikirkan Ujian
Akhir Sekolah Bersetandar Nasional (UASBN), bukan hanya memikirkan makan untuk
kebutuha perutnya. Sembari menunggu ibunya, Erwan pun berajak ke kantin,
berharap ada makanan yang bisa menenangkan perutnya yang terus bernyanyi.
Akan tetapi kantin yang biasa dia gunakan untuk makan sudah tutup. Di sana
hanya terlihat kucing peliharaan ibu kantin berbaring di atas kursi di kantin
itu. Erwan yang putus asa mencari makan siangnya, duduk bersama kucing dan
terus menggumam.
Sesaat kemudian ibu
Erwan Datang, Mustainah yang sudah keluar dari ruang rapat menghampiri Erwan
dikantin dan membawakannya satu buah roti dan air mineral. Begitu lahabnya dia
memakan roti itu. Perut keroncongan seorang ibu, sudah terbayar dengan senyum
Erwan yang telah menghabiskan satu buah roti itu. Mustaimah mengajaknya pulang.
“Angkoooooooooot,”
teriak Mustainahbersama putranya, Erwan yang sedang menunggu angkot di halte
depan depan sekolah.
“Buk, Aku laper nih,”
seru Erwan yang sedang naik angkot bersama ibuknya. Suami ibu Mustainah,
supriyono yang bekerja sebagai wiraswasta hari ini tidak bisa menjemput mereka.
Keluh manja Si Erwan yang merasa laparpun diabaikan ibu Mustainah . Hanya satu
jawaban ibu Mustainah, “Yang sabar, Nak!” jawab ibu itu dengan penuh kesabaran!
Malam telah tiba. Pak
Supriyono pun pulang dari kantornya. Belum sempat duduk maupun minum the
hangat, Erwan pun minta dibelikan nasi goreng. Ibu Mustainah membentak suaminya
agar segera membelikan nasi goreng sesuai permintaan Erwan. Bentakan ibu
Mustaina pun penuh dengan cacian, sakit untuk didengar. Semua itu ia lakukan
untuk membahagiakan Erwan anak tunggalnya. Begitulah selalu kehidupan keluarga
Erwan.
Suatu pagi Erwan pun
menangis. Dia lupa mengerjakan PR matematika untuk hari ini. Beribu-ribu alasan
keluar dari mulut anak manja itu, agar ia tidak berangkat sekolah.
“Ayo nak berangkat! Lupa tidak mengerjakan PR tidak apa-apa.
Asalkan berangkat nanti ibuk bilangkan ke ibu Fitri, wali kamu!” ucap ibu itu
penuh rayu agar anak tersebut berangkat sekolah.
Pak Supriyono pun ikut
merayu Erwan. Rayu Pak Supriyono yang sedikit maksud mendidik, menjadi
kemarahan ibu Mustainah yang sangat memanjakan anak itu. Pagi ini pun serasa
ada kapal pecah dirumah tangga ini.
Pagi itu terulang
kembali. Erwan menangis dan merintih kesakitan dengan alasan sakit perut.
Kenyataannya, dia takut dengan pendalaman materi matematika. “Anakku sayang,
Kamu berangkat sekolah yah! Supaya peringkat sekolah kita tidak turun
karena tidak ada nilai kamu.” pinta ibu Mustainah. Demikian pula pak supriyono
ikut membujuk. Terlihat waktu yang semakin siang, Erwan tidak berangkat
sekolah. Aksi mogok sekolah seperti ini sudah sering dilakukan Erwan, namun
orang tua Erwan belum pernah bersikap tegas mapun kasar kepadanya.
Erwan sejak
kanak-kanak memang sudah dimanjakan orang tuanya. Apapun yang di Minta
Erwan selalu terpenuhi, tanpa mengenal waktu, tempat dan juga cuaca. Sejak
kanak-kanak dia memang sering tidak berangkat sekolah. Kakak ipar ibu Mustainah
adalah seorang yang ditakuti Erwan. Tanpa dengan menangis, bujukan kaka ipar bu
Mustainah selalu diterima Erwan. Namun kakak ipar bu Mustainah tidak ingin
melampaui kuasa sebagai orang tua Erwan.
Dan saat Erwan selalu
bertingkah seperti itu, selau tercurah keluh kesah tercurah dari hati kedua
orang tuanya.
“Tuhan, kenapa anakku
sering, mogol sekolah? Kenapa rayuanku selalu tumbang dengan tangis anakku ?”
bu mustainah menjatuhkan air mata, turut pula pak Supriyono yang berada di
samping ibu Mustainah. “Kenapa hamba tidak bisa tegas sebagaiman orang tua pada
mestinya?” Kesediha itu selau menghantui keluarga ini.
Ulangan Akhir semester
pertama telah tiba. Erwan yang duduk di bangku kelas enam harus menjalani satu
minggu dengan ulangan itu. “Nak, calon dokter harus belajar,” sebagai motivasi
bu Mustainah,”Katanya mau seperti dokter Hendra?” sesaat Erwan tersenyum
melihat kedua orang tua yang mendampingi Erwan belajar.” “Besok juga harus bisa
masuk SMA satu kayak kakak sepupu kamu, si Iyan.”seru pak Supriyono. “Ayo pak
dokter belajar” Erwan tersenyum, “Dokternya baru lapar, beliin ayam goreng,
Pak!” ayah Erwan langsung berangkat memenuhi permintaan Erwan.
Hari yang paling
ditakutkan pun datang. Ulangan Matematika dan Agama di depan mata. Ibu
Mustainah yang sedang menyiapkan sarapan pagi, mendengar tangisan Erwan yang
sedang bangun tidur.
“Buuuuuk…….,” teriak
Erwan sambil menangis.
“Aku sakit.” Bu
Mustainah menghampirinya
“Sakit apa, Nak?”
melihat Erwan yang terus memegani perutnya.
“Sinih ibuk kasih
minyak biar ga sakit perutee.” Sembari Erwan yang terus menangis, Pak Supriyono
datang menghampiri.
“Buk, dianget-angetin
perutee, nanti kan terus sembuh! Nanti juga harus berangkat, ada ulangan
semesteran.” Kata pak Supriyono.
”Aku sakit, Pak. Gak
bisa berangkat sekolah.” seru manja anak ini.
Saat itu pun juga bu
Mustainah menelepon bu, Fitri. “Selamat pagi bu Mustainah?” seru bu Fitri
mengawali pembicaraannya. Telepon pun disambungkan ke Erwan yang sedang
menangis. “Calon dokter harus sekolah kalo cuma sakit perut,” rayu bu Fitri.
“Harus ikut semesteran kalo sudah kelas enam.”
“Dengarkan bu Fitri,
Nak!” kata bu Mustainah. Namun Erwan bertambah menangis dan menangis.Seperti
tiada lagi yang ditakutinya.
Saat-saat yang
mendebarkan pun tiba. Rapat pertimbangan nilai pun digelar. “Bu Fitri? Nilai
Erwan kenapa tidak tuntas ini? Nilai merah, gimana dengan ujiannya nanti?” ujar
ibu sumarsih selaku kepala sekolah SD N Nusa Indah.”Maaf bu, saya tidak sampe
hati.” terdiam. “Semua bapak ibu guru tercekam seketika memperhatikan keduanya
berbicara. Sementara itu mata Mustainah di sudut pojok meja rapat berkaca-kaca
memikirkan nilai matematika anaknya, yang Erwan ikuti separuh waktu itu.
Erwan yang sedang
mengikuti classmeeting dipanggil ke ruang kepala sekolah.”Maaf bu kepala, untuk
apa saya dipanggil ke sini?” sumarsi tercengan, tak bisa angkat bicara. “Ada
nilai kamu dibawah KKM,” sahut Fitri. “Kamu kerjakan ulanga matematika, karena
kamu belum tuntas. “ kepala sekolah itu berbicara juga.
Liburan kali ini
bukanlah waktu Erwan untuk membesarkan perutnya. Erwan terketuk, akan suatu
perjuangan mendapatkan nilai. Bagi Erwan panggilan kepala sekolah itu adalah
celuti untuknya terus belajar dan belajar. Tak sempatpu Erwan melirik televise
saat belajar, dan dia tetap focus. Dia punmengikuti les diberbagai guru
privatnya. Dia juga selalu mengerjakan latihan soal-soal dengan buku-buku yang
disarankan gurunya.
“Adhek baru apa?”
terlihat Iyan, kakak sepupu Erwan yang tersenyum, datang dan menghampiri dari
rumah sebelah. “Menentukan perbandingan dan sekala pada peta, kak.” “Wah,
sekarang Erwan sudah rajin sekali ya!” kata Iyan yang duduk disebelah Erwan
yang sedang belajar.
Memang usaha Erwan tak
begitu saja. Dia selalu ikut berdoa waktu dini hari. Selalu hidup prihatin dalam
setiap langkahnya. Anjuran agama selalu ia kedepankan.
Latihan ujian dan
latihan ujian ia jalani. Ia selalu dipandu sepupunya Iyan dan Andro. Bersama
keluarga yang lain, mereka mengamati belajar Erwan. “Kak Andro? Planet dalam
tata surya ada berapa?” tanya Erwan penuh semangat.”Coba dicari dibuku!”
jawabnya lugas. “Sembilan ya, Kak?” masih terus membaca buku di depannya.
“Emmmmmmm, sekarang bukan Sembilan lagi, dek. Karena planet Pluto sudah tidak
dianggap planet lagi.” (memotong pembicaraan) jawab kakak Iyan yang perhatian
ini. “Kuk tidak dianggap sebagai planet lagi kenapa?” tannya Erwan penuh
penasaran. “Karena orbit Pluto menerobos planet Neptunus,” jawab Andro kembali
memotong pembicaraan.
Waktu memang tidak
bisa diajak kompromi lagi. Ujian Akhir tinggal dua minggu lagi. Dan tidak ada
pilihan lagi kecuali menghadapinya dengan penuh semangat dan serius.
Seketika malam, Erwan
terbangun mendengar ibu dan ayahnya berdoa untuk keberhasilan ujiannya. Selagi
dinginya malam, hati Erwan tersentuh.Dia mengambil air dan ikut berdoa dengan
orang tuanya. Kemantapan dan keyakinan meraih kesuksesan dalam ujian akhir telah
iya dapatkan.
Dalam menjalani
ujian,Erwan sangat bersemangat. Dia yakin persiapan-persiapan yang ia lakukan
sudah cukup. Dia meminta doa kepada orang tua, keluarga, bapak dan ibu guru,
teman dahabat dan yang lainnya agar lebih percaya diri dalam menyelesaikan
ujian akhir.
Akhir penantiannya selama enam tahun di pendidikan Sekolah Dasar Nusa Indah telah
selesai. Pengalaman buruknya kini menyadarkannya, memberinya gambaran hidup,
dan membalikan opini-opini orang di
sekitarnya. Dia menjadi siswa luslusan terbaik di kota dan diterima di SMP yang
dia inginkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar